Tentang HIPSI

Pendirian Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) tidak lepas dari upaya melanjutkan perjuangan para tokoh pendahulu NU. Ditarik jauh ke belakang, tahun 1918 bangsa Indonesia sedang melawan kolonialisme Belanda. Seorang ulama pesantren sekaligus aktivis  pergerakan nasional KH. Wahab Chasbullah bersama 45 Saudagar santri lainnya mendirikan perkumpulan para saudagar yang diberinama Nahdlatut Tujjar  (Kebangkitan Para Saudagar). Perkumpulan ini bertujuan meningkatkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan sekaligus melawan penjajahan dan penindasan imprealisme Belanda. Lahirnya Nahdlatut Tujjar merupakan bentuk dari kesatuan dan kebangkitan kaum santri yang menjadi cikal bakal lahirnya Nahdlatul Ulama. Delapan tahun kemudian, pada tanggal 31 Januari 1926 pergerakan kaum santri mencapai puncaknya dengan lahirnya Nahdlatul Ulama, yang dipimpin langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syamsuri dan bersama para ulama pesantren lainnya. Terinspirasi dari para Ulama terdahulu, sehingga Hipsi didirikan pada tanggal 3 Februari 2012 di Pesantren Al-Yasini Pasuruan. Pendirian organisasi ini telah diketahui oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan santri dan mengokohkan jejaring ekonomi antar warga nahdiyyin dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Tantangan ekonomi masa lalu tentu saja berbeda dengan masa kini yang lebih kompleks. Dapat disebutkan, tantangan terpenting saat ini adalah persaingan makin ketat dan terbuka sampai pada skala global, serta daya dukung sumberdaya alam yang makin turun. Di tengah “kegaduhan” ekonomi itu (walau terasa senyap), di situlah warga nahdliyin, khususnya para santri hidup. Maka, dalam skala mikro HIPSI ingin memberi peluang kepada para santri untuk secara bersama-sama, menyatukan potensi mengangkat harkat ekonominya sendiri. Dengan demikian mereka lebih siap melaksanakan tugas-tugas kemasyarakatannya, sekaligus berkontribusi bagi tumbuh kembangnya ekonomi yang sehat.

 

Visi HIPSI adalah

Menjadi organisasi yang menghimpun dan mencetak pengusaha yang berahklaqul karimah.

 

Misi HIPSI adalah

Untuk mencapai visi itu, dijabarkan ke dalam misi sebagai berikut:

  1. Menjadikan wadah pengembangan wirausaha yang profesional dan berakhlaqul karimah
  2. Mensinergikan jejaring kekuatan ekonomi santri dan masyarakat serta umat muslim Indonesia melalui badan usaha koperasi
  3. Memberdayakan ekonomi masyarakat untuk katalisator peningkatan ekonomi nasional.

 

Nilai HIPSI

Nilai-nilai akhlaqul karimah yang ingin tetap dijaga dan dikembangkan dalam mencapai semua tujuan-tujuan organisasi sesuai dengan visi-misi di atas adalah:

  1. Benar dan Jujur / Siddiq, yaitu upaya untuk tetap bersikap benar, jujur, objektif karena iman
  2. Profesional / Fathonah, yaitu cerdas, kompeten/ahli di bidangnya dengan terus berupaya belajar
  3. Kepercayaan / Amanah, yaitu membangun kepercayaan dalam hubungan dengan sesama
  4. Transparan / Tablig, yaitu terbuka/transparan dalam menjalin hubungan/sinergi dengan pihak lain
  5. Konsisten / Istiqomah, yaitu memegang teguh secara terus-menerus pengamalan keempat nilai di atas.

 

Logo HIPSI

Dalam Anggaran Dasar HIPSI, Pasal 4, disebutkan “Lambang HIPSI berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis katulisitiwa, yang terbesar diantaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah katulisitiwa, dengan tulisan HIPSI, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

Masing-masing memiliki arti seperti berikut :

  1. Gambar bola dunia melambangkan tempat hidup, tempat berjuang, dan beramal di dunia ini dan melambangkan pula bahwa asal kejadian manusia itu dari tanah dan akan kembali ke tanah.
  2. Gambar peta pada bola dunia merupakan peta Indonesia melambangkan bahwa HIPS I dilahirkan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia,khususnya dan ummat Islam di Dunia umumnya.
  3. Tali yang tersimpul melambangkan persatuan yang kokoh, kuat selalumenjalin silaturahmi;,J umlah untaian tali sebanyak 99 buah melambangkan Asmaul Husna.
  4. Sembilan bintang yang terdiri dari lima bintang di atas garis katulistiwa dengan sebuah bintang yang paling besar terletak paling atas, melambangkan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat manusia dan Rasulullah; Empat buah bintang lainnya melambangkan kepemimpinan Khulaur Rasyidin yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
  5. Empat bintang di garis katulisitiwa melambangkan empat madzab yaitu Hanafi, Maliki, S yafii, dan Hambali. Jumlah bintang sebanyak 9 (sembilan) melambangkan sembilan wali penyebar agama Islam di Indonesia.
  6. Tulisan HIPSI di tengah menunjukkan nama dari organisasi yang berarti singkatan dari Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
  7. Warna hijau dan kuning melambangkan kesuburan tanah air Indonesia dan kemakmuran dan warna kuning melambangkan kesejahteraan.
  8. Garis besar saling mengikat antara warna hijau dan kuning menunjukkan ikatan yang saling memperkuat antar anggota yang sekaligus menunjukkan selalu berpegangan erat dalam suka dan duka untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama
Share: