Para Santri Kini Sudah Bisa “Go International”

Bersarung dan ke mana-mana menggunakan peci, baik di pesantren maupun ketika sudah lulus. Itulah kesan dan yang selalu terbayang di benak seseorang jika disebut kata santri. Kesan itu sudah terbangun sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang.

Masih banyak santri kalau sudah lulus, kembali ke kampungnya menjadi petani, melanjutkan usaha orang tuanya atau mengajar mengaji di musala dan madrasah. Kalau pun mereka merambah dunia usaha, ya paling banter usaha jualan cilok (makanan ringan) atau berdagang di pasar tradisional.

Namun, kesan yang cenderung inferior dan terbelakang soal santri tersebut saat ini sudah mulai terkikis. Para santri kini telah melakukan berbagai upaya serius mengejar ketertinggalan. Semua komponen masyarakat bisa melakukan mobilitas vertikal jika memiliki jaringan dan kompetensi teknis, kehidupan kaum santri langsung menyeruak dari pinggiran ke pusat kekuasaan dan ekonomi.

Kaum santri juga bisa bernasib sama seperti warga bangsa lain. Bisa menjadi pejabat negara, pengusaha, dan menjadi apa pun kalau dia memiliki kompetensi dan kualitas diri yang andal. Santri juga bisa keliling dunia dan membangun bisnis internasional. Santri kini bisa go international karena mampu menyiapkan diri dengan kualitas dan kompetensi teknis yang dimilikinya.

KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah bukti dan contoh kongkritnya. Meskipun pada awalnya Gus Dur dikesankan hanya sebagai pimpinan kaum tradisional yang kolot dan tidak modern, tetapi Gus Dur membuktikan kualitas dirinya dan mampu menunjukkan kemampuannya menjadi orang yang paling layak dan pas menjadi Presiden.

Saat itu, Gus Dur mampu mengalahkan semua tokoh nasional yang mengaku pintar dan hebat, termasuk tokoh yang dianggap paling berjasa dalam gerakan reformasi 1998. Gus Dur juga mampu mengalahkan para jenderal dan tokoh nasional yang dididik langsung oleh Orde Baru menjadi para pemimpin masa depan Indonesia.

Itulah bukti kaum santri sesungguhnya bisa menjadi apa pun dan bisa mengalahkan siapa pun kalau dia membekali diri dengan kompetensi dan profesionalisme. Apa yang terjadi pada diri Gus Dur inilah yang kemudian menjadi titik balik dari gerakan kaum santri tidak lagi hanya kaum kelas dua. Santri telah bisa masuk ke pusat dan jantung kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan naiknya Gus Dur sebagai Presiden RI ke-4 setelah Pemilu 1999 yang diakui paling demokratis sepanjang sejarah pasca Pemilu 1955 juga, kaum santri langsung bisa menjadi menteri, duta besar hingga menjadi pengusaha.

Ini adalah cerita nyata bahwa kaum santri sudah bisa membuktikan kepada warga bangsa dan seluruh rakyat Indonesia mampu menjadi pemimpin yang siap melayani warga negara dengan akhlaqul karimah.

Saat ini, ketika kehidupan berbangsa dan bernegara semakin menyempit karena arus deras perkembangan teknologi informasi yang semakin dahsyat, juga ikut membantu ruang gerak para santri menjadi pemain kunci dalam bidang politik dan ekonomi. Mereka semakin terbuka dan fleksibel dalam menghadapi perkembangan zaman dan laju perekonomian global.

Para santri di pesantren tidak hanya berkutat dengan ilmu agama dalam kitab kuning, namun mereka juga mulai belajar ilmu-ilmu keduniaan, seperti matematika, bussiness, marketing, teknologi informasi, manajemen, dan enterpreneurship.

Pengusaha Santri

Jangan heran kalau saat ini muncul banyak pengusaha santri atau pengusaha yang memiliki latar belakang sebagai santri mulai bergerak ke tengah pasaran ekonomi nasional. Ini tentu satu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi dunia santri dan pesantren. Hakikat kemanusiaan santri menjadi normal dan tidak dipandang sebelah mata sebagai kaum kolot, tradisonal, dan terbelakang.

“Santri juga memiliki peran penting dan strategis dalam membangun bangsa, khususnya dalam bidang ekonomi. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar yang harus segera disinergikan oleh kaum santri dan dunia pendidikan di pesantren khususnya,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Skill ‘Nurul Hayat’, KH Muhammad Nur Hayid menjawab Koran Jakarta, baru-baru ini.

Mengingat betapa pentingnya peran santri dalam perkembangan dunia modern ini, termasuk tantangan serta problematika kebangsaan yang dihadapi, santri harus bersatu. Kaum santri harus bisa memainkan peran strategisnya dalam memperbaiki nasib dan kondisi bangsa ini, tak hanya di bidang moral, tetapi juga di sektor ekonomi.

Atas dasar itulah, lanjut Gus Hayid sapaan akrab KH Muhammad Nur Hayid, akhirnya dibentuklah organisasi Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) sebagai sebuah wadah berkumpul dan bersatunya pengusaha yang memiliki background santri.

“Pendirian organisasi ini dilandasi semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan santri. Ini akan mengokohkan jejaring ekonomi antarwarga santri serta warga nahdiyyin di seluruh Indonesia dan yang berada di negara-negara lain,” ujar Gus Hayid yang juga menjabat Sekertaris Jenderal DPP Hipsi ini.

Sejak berdiri tahun 2012, beberapa kegiatan sudah digelar, di antaranya dengan mengajak para santri lebih membuka wawasannya di dalam dunia kewirausahaan. Ini diwujudkan dengan memberikan training di pondok pesantren dan praktik produksi serta mengikuti pameran. Diharapkan dengan penguatan kualitas dan SDM kaum santri itu ketika mereka keluar dari pesantren bisa langsung berkarya dan bekerja secara baik dan profesional.

Hipsi mengajak para pengusaha dari kalangan santri untuk berwirausaha. Sebagaimana visinya mencetak satu juta santri pengusaha, digelar berbagai seminar hingga perjalanan bisnis ke berbagai negara.

Yang terbaru sekitar 60 pengusaha santri dari seluruh wilayah Hipsi se-Indonesia telah sukses menggelar bisnis meeting di tiga benua, yakni Asia, Afrika, dan Eropa pada 18 November - 3 Desember 2016. Berbagai deal bisnis telah disepakati, di antaranya siap mengimpor kurma dari Aljazair dan ekpor santan kelapa ke sana serta kesepakatan lain.

Para santri kini sudah bisa go international lewat jalur ekonomi, yakni menjadi pengusaha yang profesional dan mandiri. Dengan capaian ini, kesan santri hanya kaum pinggiran dan terbelakang sudah terhapus dengan sendirinya.

Kini santri tidak akan lagi dipandang sebelah mata karena sudah mampu menunjukkan kelas dan kualitasnya dalam memberikan kontribusi nyata bagi umat, rakyat, bangsa, dan negara. 

Sumber

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar disini