Beri Pelatihan untuk Pengusaha, Begini Konsep Baitul Mal Ala Pesantren Bisnis

Penguatan ekonomi pesantren menjadi hal penting untuk keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan agama. Seiring dengan perkembangannya, kini pesantren tidak hanya menjadi pusat pengajaran ilmu agama Islam dan praktik ibadah mendasar saja. Lebih dari itu, beberapa kalangan telah membantuk kelompok non-profit bernama Pesantren Bisnis.

Baru-baru ini, Pesantren Bisnis memberikan pelatihan manajemen bisnis berlandaskan syariat Islam kepada ratusan pengusaha. Pelatihan yang dilakukan selama tiga hari itu digelar di Wisma TNI AL Nirwana, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sekitar 120 orang terlibat sebagai peserta dalam kegiatan ini.

Ketua Panitia Pusat Pesantren Bisnis, Lanang Pribadi mengatakan ilmu ekonomi dan bisnis yang berdasarkan tuntunan Alquran dan Sunnah dianggap sebagai suatu kebutuhan masyarakat saat ini. Hal demikian lantaran tidak sedikit umat Islam yang terjebak dengan sistem ekonomi konvensional.

“Salah satu bagian yang bertentangan dengan ajaran Islam adalah sistem pinjaman berbunga. Sistem itu termasuk riba sehingga bisa berdampak pada permasalahan sosial seperti ketidakharmonisan keluarga dan bermasyarakat,” ujarnya.

Menurut Lanang, pinjaman berbunga dari perbankan yang memakai sistem konvensional justru dianggap menambah beban masyarakat, termasuk peminjam untuk modal usaha. Kondisi itu, kata dia, diperburuk dengan karakter masyarakat yang ketergantungan dengan hutang. “Poin pertama yang harus dilakukan masyarakat adalah menghindarinya. Yang kedua mulai membuat sendiri sistem yang tidak bertentangan dengan syariat Islam,” katanya.

Ia mengungkapkan, salah satu solusi yang ditargetkan kelompoknya adalah membangun Baitul Mal. Menurutnya, Baitul Mal tersebut nantinya akan jadi lembaga swadaya masyarakat yang memberikan modal usaha bagi para peserta Pesantren Bisnis.

“Menggunakan modal dari hutang itu suatu kesalahan yang umumnya terjadi di masyarakat. Boleh saja grafiknya tumbuh tapi hasilnya tidak baik akibat riba,” tambahnya.

Pada kesempatan sama, penggagas Pesantren Bisnis Arif Abu Syamil meyakini bahwa konsep bisnis yang syariah tidak hanya mencari keuntungan materi tapi juga keberkahan dari Yang Maha Kuasa. Ia menuturkan, selain karakteristik berbisnis yang buruk seperti berhutang, kekurangan masyarakat dalam berbisnis adalah kurang kemampuan atau skill kewirausahaan.

“Dalam Pesantren Bisnis ini, para peserta dibentuk karakter takwa seorang muslim sekaligus menguasai skill bisnis yang mumpuni,” katanya. Selain itu, para peserta kegiatan yang sudah berlangsung sebanyak tujuh kali sejak Ramadan 2016 itu juga diberi solusi untuk membayar hutang-hutangnya juga berhenti menggunakan sistem riba.

Menurut Arif, konsep harta dan rezeki itu berbeda. “Kalau harta konsepnya banyak-sedikit. Seseorang bisa mencari harta dengan berbagai cara sekalipun itu bertentangan dengan agama. Sedangkan rejeki itu konsepnya lapang dan sempit. Dilapangkan dengan pahala, disempitkan lewat maksiat,” jelasnya.

Arif menyebutkan, Baitul Mal ini sebagai konsep pokok kebangkitan ekonomi pada zaman Rasulullah dahulu. Masyarakat nantinya diminta membayar infak melalui Baitul Mal untuk selanjutnya dijadikan modal pembangunan termasuk bantuan modal bisnis masyarakat.

Ia meyakinkan konsep Baitul Mal serupa sudah berhasil diterapkan masyarakat di wilayah Tegal. Dana dari sana menurut Arif akan digunakan untuk kebutuhan jangka pendek seperti bantuan musibah, kecelakaan dan kelaparan. Sedangkan kebutuhan jangka panjang menurutnya lebih pada pemberdayaan ekonomi, pembangunan rumah sakit dan sebagainya. 

Sumber

Share:

Tags:

Tinggalkan komentar disini